Top Social

Image Slider

Peri Hutan : Pulang Kampung :)

Wednesday, June 23, 2010

Peri Hutan menari-nari dan tersenyum pada semua mahluk di hutan balantara tempatnya tinggal.

Ia bahkan tersenyum pada Peri bermata Elang yang hampir tak pernah tersenyum. Padahal Peri bermata Elang memiliki mata yang indah, coklat muda seperti hazelnut, dan badannya juga tak kalah indah (?). kalau saja ia bisa tersenyum sedikit, akan ada banyak Peri-peri cantik, akan menyukainya. Walaupun Peri bermata Elang tetap menatapnya menusuk, lalu membuang muka. Peri Hutan tidak perduli. Hatinya senang. Ingin melompat. Ingin terbang berputar-putar di angkasa.

Ia senang bukan karena mendengar sang Pangeran kata-kata mencari istri.

Tapi ia melompat karena akhirnya ia dapat kembali melihat surga dunianya lagi. Hutan belantara memang indah. Flora dan Fauna di sana bertampang manis. Sayap-sayap mereka indah luar biasa. Ia dapat melihat peri-peri dari berbagai belahan dunia lain. Di hutan belantara juga ia belajar mandiri. Di sana pula ia mengetahui cerita tentang Pangeran Kata-Kata.

Bagi Peri hutan kecil, surganya tetaplah di Hutan Indonesia. Hutan yang flora faunanya jauh lebih manis dan ramah. Bahkan pada mahluk kecil sepertinya.

Beberapa hari sebelumnya, Peri Hutan sudah membuat janji dengan burung raksasa berbulu perak untuk mengantarnya pulang. Burung yang juga bermata cantik ini dapat terbang luar biasa cepat namun tetap membuat penunggangnya nyaman.

Peri Hutan selalu membuat janji dengan Burung berbulu perak untuk menerbangkannya jauh, tinggi ke angkasa sana. Ia menjadi alat transportasi pilihan, selain bubuk putih ajaib yang dapat mengantarkan seseorang secara ajaib. Hanya perlu menaburkan bubuk itu dan mengucapkan mantra. Dan TADA!! Sampailah ia ke tempat tujuan.

Peri Hutan suka sekali terbang. Sayap burung berbulu perak selalu membuatnya terkesima dengan keindahannya. Saat di timpa tuan Matahari, sinarnya dapat menarik perhatian lawan jenisnya. Mata mereka juga seindah bulu-bulunya. Air matanya dapat menyembuhkan luka..

sudah ada sejuta ide-ide baru untuk menghabiskan masa liburan di kampung halaman. Bersantai, bercanda gurau dengan sang Tuan Matahari, atau melepas lelah bersama Nyonya Senja.

ahhh... Peri Hutan memeluk leher sang burung berbulu perak saat ia melayang dalam angannya sendiri.

namun, akankah liburan kali ini seindah bayangannya??

Kisah Pangeran kata-kata

Saturday, June 19, 2010
Ada berita baru yang di serukan toa istana. Pangeran kata-kata mencari istri!! Dan ia akan mengembara untuk mencari yang terbaik.

Ia percaya perempuan itu masih tersembunyi di balik semak-semak desa atau terselubung daun-daun malu yang menunggu waktu untuk muncul di permukaan.

Di harapkan para perempuan lajang bersiap-siap kedatangan sang pangeran kata-kata di halaman mereka.

Tiada syarat yang di minta. Semua bergantung mata dan hati sang pencari cinta. Bahkan ia bertitah pada peri cinta untuk tidak menggodanya kali ini. Dan peri cinta hanya menggerutu "kalau tidak dengan panahku, bagaimana kau bisa jatuh cinta?"

Akankah pangeran kata-kata menemukan sang belahan jiwa? Cerita putri yang mendapatkan pangeran pujaan hati yang tampan dan baik hati selalu berakhir cepat dan happy ending, hanya ada dalam dongeng.

Kisah pangeran kata-kata bukanlah dongeng. Ia hanya ingin bercerita, sambil mencari... Ia ingin bercerita tentang kisahnya dengan putri-putri itu..

Dan pangeran kata-kata pun berbicara..
"Aku akan berangkat memburumu. Sekalipun kamu bersembunyi, suatu saat kita akan bertemu."
Sent via BlackBerry from Maxis

Senyum peri-peri kecil Kamboja

ketika kita membuka jendela, mungkin masih dapat menemukan hijaunya rumput tetangga. Dan bersyukurlah.
Karena Peri-Peri Sungai di Floating Village sana, hanya memiliki air dan berton-ton air keruh sebagai halaman mereka.
Peri kecil ini berteman dengan ular dan tak takut melilitkannya sebagai aksesori untuk mencari makan...
1 USD adalah rate nya, dan
kamu boleh berfoto dengan ularku...
senyumku, salah satu Peri Sungai (?) floating village Siem Reap, Kamboja
Mereka juga bersemangat pergi ke sekolah, berangkat dengan perahu kecil,
berbagi dengan teman-teman dan Tuan Matahari

Inilah kami sehari-hari

Di sinilah kami bermain, dan ini taman kanak-kanak kami
bersiap beraktifitas...

Mengintip sisi lain sebuah halaman


kendaraan wajib untuk turis yang melintas

Karena halaman kami 'air keruh' dan rumah kami berada di atasnya
salah satu kegiatan harian kami

Menanti sang Hari tiba

Aku mendengar kabar.
Bukan kabar burung tentunya.
Bahwa Hari akan tiba. Hari akan datang. Datang membawa oleh2 sekantong lelah dan sekoper cerita.

Aku senang sampai lompat kegirangan. Menurut mereka ini berita bagus. Tapi bagiku ini luar biasa.

Hari selalu datang tanpa tangan kosong. Pasti saja ada yang di bawanya.

Langit senja sudah melambaikan tangannya padaku. Dan aku masih menunggu sampai ujung hari. Namun sampai bulan memakai piyamanya, Hari belum juga berdiri untuk membelai rambutku.

Aku masih menunggu mu Hari. Sampai waktu yang akan datang, sampai ceritamu ada di tanganku. Aku pasti di situ.

Berdiri.
Sendiri.
Menanti.
Hari.
Tiba...
Sent via BlackBerry from Maxis

Auto Post Signature

Auto Post  Signature