Top Social

Cerita sang Peri Aceh dan kedatangannya

Monday, November 08, 2010
Langit sudah mulai gelap. Peri-Peri sudah dari tadi mengepakkan sayap tipis mereka pulang ke rumah.
Bahkan si Peri bermata Elang yang biasanya berburu di kala malam menyapa, memilih pulang ke sangkar lebih awal.

Peri Hutan kedatangan lawan. Peri lain, dia berasal dari ujung Indonesia. namanya Peri Aceh.

Peri Hutan tak tahu namanya sebernarnya, hanya memanggilnya saja begitu, karena ia tahu yang lawan berasal dari Aceh. Bukannya ia benci pada sang Peri Aceh, hanya tidak suka. Pilihannya lah ia memutuskan menyukai atau tidak.

Mereka berebut piala yang sama. Pangeran Kata-Kata.
Kabar dari istana mengatakan, Pangeran Kata-kata sempat meminangnya. tak lama cerita itu bersambut, mereka berpisah.
Satu hari Pangeran Kata-kata mendongeng, namun tak menyebutkan asal muasal cerita. Sukses membuat Peri Hutan menebak-nebak dalam gelap.

Peri Hutan tak benci dia. Hanya tidak memilih untuk menyukainya.
Peri Aceh membuat hatinya terluka. Bukan Pangeran Kata-kata yang melakukannya. Tapi Peri Aceh merebutnya.

Mungkin Pangeran Kata-kata silap.
Mungkin Peri Aceh tak tahu.
Mungkin Peri Hutan hanya tak sengaja mematahkan sayapnya sendiri, ketika memutuskan pergi mencari dan meminta sang cupid memanahkan panahnya paksa antara dirinya dan sang Pangeran.

Ia hanya ingin rasa itu tersedia untuknya.
Rasa yang dapat menyembuhkan luka sayapnya, dan membuatnya indah seperti sedia kala.

Langit malam datang, sang rembulan menyapa. Namun Peri Hutan tak bersemangat membalas. Pikirannya melayang jauh.

Andai Pangeran Kata-kata tau, ia tak perlu berlari jauh.
Andai Peri Aceh pergi saja kembali ke kehidupan lamanya dan menenggelamkan kisahnya di laut lepas.
Andai itu terjadi, mungkin Peri Hutan akan membalas senyum cerah Nyonya Rembulan malam ini.

Auto Post Signature

Auto Post  Signature