Top Social

Kegilaan tanpa sang Pangeran Kata-Kata

Monday, December 20, 2010
Senja sudah tenggelam satu jam yang lalu. dan aku masih termanggu di depan pintu. aku tidak menunggu siapapun. tapi aku pun enggan beranjak.

Di pagi hari, aku si Peri Hutan bermain dengan embun-embun segar sang harapan hari.
Menjelang siang, aku si Peri Hutan menyambut senyuman manis sang Pangeran Kata-Kata bila ia datang berkunjung ke 'istana'-ku. membiarkan ia menorehkan alunan kalimat terbaiknya di dinding hatiku. membiarkan ia melantunkan irama terindah tawanya.
Ketika senja datang, aku si Peri Hutan melambaikan tangan perpisahan pada sang Pangeran Kata-Kata berharap dapat berjumpa lagi esok hari.

Dapat kau lihat, hari-hariku sungguh indah, menawan, penuh senyuman.
Dinding hatiku sudah penuh warna, di torehkan dengan alunan kuas khusus dari Pangeran Kata-Kata.

tapi itu dulu. ketika kami masih mendiami satu daratan.
walaupun sekarang, kami masih beratapkan satu langit. tapi bukan satu jembatan pelangi.

Liburan yang menyiksa. itukah perasaan yang kurasakan? berada bermil-mil jauhnya dari daratan sang Pangeran Kata-Kata.
Hari yang panjang. begitukah suara hatiku berkata? duduk di bangku taman yang tanahnya bahkan tak sama dengan yang di duduki sang Pangeran Kata-Kata.
Euh, perasaan yang bisa membuatku gila. Kerinduan yang mendalam, berujung kegilaan sesaat. Kegilaan sesaat ini ujungnya sejauh dia berada. Bermil-mil dari sini.

aku bisa gila... mungkinkah aku, si Peri Hutan jadi gila karena merasakan ini sendiri?
aku bisa gila... mungkinkah aku, si Peri Hutan jadi gila karena membiarkan ini sendiri?

liburan yang menyiksa, hari yang panjang tanpa sang Pangeran Kata-Kata..

Auto Post Signature

Auto Post  Signature