Top Social

Diary of Dorm Life

Wednesday, January 26, 2011

10 May 2009
Di kamarnya Sila, jam 2.16 pagi
“Hufh … huh… your lips really sexy and soft, Sila. I like it.” Suara berat cowok itu mengalir lagi, memuji bibir mungil Sila yang plain, tanpa lipstik atau lipgloss. Posisinya sekarang, Sila di tindih si cowok yang tengkurap di atasnya. Napas Sila terasa di buru, tapi seolah gak mau melepaskan kuncian ciuman itu, Sila tetap berada di posisinya yang semula. Tangannya memeluk body hot tanpa pelapis, di atasnya. Mata Sila masih terpejam juga, menikmati setiap deru napas dan serbuan ciuman yang mengunci tubuh Sila.
“Then? Come here, closer and closer.” Sila masih membalas. Suasana hening malam itu. Rumah Sila juga kosong. Housemate satu flat semuanya sedang tidak di tempat. Brianna, cewek seksi asal Brazil housemate pertama yang Sila kenal, hanging out di Sunway mall bareng Brian, cowoknya. Jessy roomatenya Sila, pergi ke KL, celebrate something.. Sementara Aida, cewek gendut asal lokal, Malaysia, yang nempatin kamar single di dekat dapur, sepertinya pulang ke rumah atau have fun sama pasangannya. Hm dalam hal ini, Sila baru tau kalo Aida ternyata lesbian, dari penyelidikan beberapa waktu yang lalu. Jadi, malam itu Sila beneran sendiri, oke berdua sama Zachary Quinto, cowok yang bermain di film Star Trek terbaru.
Eh, Zachary Quinto? Tunggu dulu. Sila membuka matanya. Walaupun lampu di matikan, Sila masih bisa melihat dalam kegelapan. Sepasang mata sedang menatapnya tajam tapi penuh nafsu, agak kurang suka aktifitasnya di sela dan hendak melancarkan aksinya lagi.
Kok? Seingat Sila, mukanya Zachary itu mulus, gak kayak bulan gitu. Terus brewoknya juga gak setebel ini. Seksi sih keliatannya, dan terasa menggelitik, tapi jelas beda dengan Zachary dalam bayangannya atau paling tidak seingatnya.
Sedetik kemudian, Sila menyadari. Bodoh, runtuknya. Jelas saja berbeda. Cowok ini bukan Zachary Quinto.. bisa heboh satu dunia kalau seorang Sila benar-benar melewati malam yang sepi itu bersama Zac yang asli. Kejadian itu hanya akan terjadi dalam mimpinya. Lalu siapa cowok ini?
Sila mendorong dada cowok yang sedari tadi masih terus membasahi bibirnya. Cowok itu jelas terkejut, tapi tak menghindar. Ia bangun dan duduk di samping kiri Sila. “What's wrong?”
“Wait. I need water.” Kata Sila setelah badannya tegak. Namun Sila nggak juga beranjak turun dari tempat tidur. Ia malah diam. Di sampingnya, si cowok mencoba meraba betis Sila yang jenjang dan Nampak seksi karena malam itu ia hanya mengenakan cela pendek sepaha. Sila tahu kepolosan betis dan setengah pahanya menggoda cowok itu untuk menggerayanginya lebih lagi. Tapi Sila seolah sudah biasa menghadapinya, sebelah tangannya mencegah ‘tangan nakal’ itu, dan sebelah lagi membuka sedikit tirai jendela di sampinya.
Sepi. Tidak ada orang lalu lalang di bawah. Flatnya yang berada di tower yang berhadapan dengan tower A, memungkinkan ia melihat jelas apa saja yang ada di bawahnya dan apa yang ada di tower A. biasanya di jam segini masih ada beberapa orang di bawah (GF). Entah ngumpul bareng temen-temen, sepasang muda-mudi yang duduk di bangku taman, yang di antaranya Sila mengenali mereka. Segerombolan Pakistani student yang biasa nongkrong di dekat kolam renang sampai pagi menjelang, atau sekumpulan Malaysian student yang di biayain negera mereka karena pekerjaan orang tuanya dan bisa sekolah di privat University yang cukup bergengsi macam kampusnya, yang kadang sedikit membuat keributan di taman bawah. Sialnya, posisi taman itu persis di bawah jendela kamar Sila, dan ia sering terganggu karenanya.
Setelah menutup tirai, Sila beranjak dari tempat tidurnya, teringat tujuan awal menghentikan ‘keasyikan’ malam itu. Tangannya dengan sigap meraih ponselnya yang tergeletak di tepi meja, dan ia keluar meninggalkan cowok yang masih terlentang di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar yang di penuhi tempelan glow in the dark menyala dalam kegelapan.
3 misscall from Elena.
2 messages unread from Pram.
Sila mendesah saat melihat itu semua. Bukan karena 3 misscall yang Elena, sahabatnya buat. Tapi karena ada lagi message unread dari Pram. Entah kapan cowok itu mau berhenti mencoba untuk kembali pada Sila, setelah semua sikap dingin yang Sila beri. Sila menyambar botol air mineral di meja dan berjalan ke arah balkon, berdiri di sana. Tak lupa ia menutup pintu balkon lengkap dengan tirainya.
Sila suka keheningan seperti ini. Segar. Di saat seperti itulah pikirannya mengawang sendiri. Dan saat seperti inilah seolah memberinya waktu lebih untuk banyak berpikir. Ia menengok ke belakang, dan mendengarkan… ada sesuatu yang mengusiknya. Cowok itu sudah bangun dari tempat tidur, mungkin bosan di tinggalkan sendiri dan menyusul Sila ke ruang tengah, bukan ke balkon..
“Sila, are you there? Can you give me one cigarette? Mine was finish.”
“ZB, you know I don’t smoke. If you want, just take one from Jessy. I will say to her later.. the lighter on her table.” Ujar Sila dari balkon, tanpa melongokan kepala ke arah dalam seperti biasa. Toh biasanya juga cowok itu mengambil apapun yang ia mau tanpa permisi. Sila seolah sudah terlalu terbiasa dengan apapun yang ZB lakukan.
Sementara ZB di dalam, merokok mungkin, Sila di luar masih asyik memandangi langit dan memperhatikan keadaan sekitar yang senyap. Kakinya terasa hangat karena bagian lain AC menghembuskan napas panas setara dengan lantai..
Kalau ayahnya tau tentang apa yang terjadi malam ini antara Sila dan ZB, pastinya ia sudah di pulangkan ke Indonesia dan tidak di izinkan untuk kuliah jauh-jauh dari rumah. Karena inilah, Sila menyukai dunianya yang sekarang. Dunia yang bebas, namun tetap terkendali. Sila adalah penikmat hidup, dan bebas adalah salah satunya. Namun ia masih ingat janjinya pada sang ayah setahun lalu sebelum ia berangkat ke negeri jiran ini untuk menimba ilmu. “You can be free out there. But you still have responsibility to me, to your big family, and to GOD. Just remember, you must do your best on your study and show it to us. The most important, no sex before married. I cannot keep you or watching you all the time anymore, if you already out of home, I cannot control you. You must control yourself. Responsibility on your own. All things now depend on your hand.”
Dan Sila masih memegang janji itu sampai sekarang. Sefree-free dirinya, ia masih mencegah sex before married. Makanya ia menjaga supaya nggak terlalu terbawa suasana seperti tadi. Thx GOD, bayangan Zachary Quinto menolongnya.. oke, tolong jangan sama kan Zachary Quinto yang ganteng dan seksi itu dengan ZB yang ehm.. Sila nggak menampik kalo entah mengapa terkadang ZB kelihatan oke juga. Oke? Sila segera menghapuskan pikiran kacaunya antara ZB dan Zac.. orang waras pasti bisa tau dimana perbedaannya..
Sila memutuskan masuk ke dalam, kala langit makin gak kelihatan bintangnya dan angin berhembus bikin bulu-bulu halus di tangannya naik. Tubuh Sila yang termasuk ramping, bisa masuk ke dalam tanpa perlu membuka pintu balkon lebar-lebar. Ia melihat ZB menyangga kepalanya dengan bantal sofa. Puntung rokok terakhirnya bersisa di asbak sepertinya masih baru. Berarti cowok ini mungkin memang ngantuk banget. Tapi Sila sama sekali nggak merasa berada di luar terlalu lama, paling hanya kisaran beberapa menit. Menatap damainya ZB tidur, Sila jadi nggak tega buat ngebangunin. Walaupun cowok ini terkadang pikirannya sedikit kotor yang sering bikin Sila jengkel, toh ia akuin cowok ini emang punya hal menarik yang bikin Sila ingin coba mengerti.
Perlahan, ia kecup kening ZB, agar tak membuat cowok itu terbangun kaget. Tapi tetap saja, mata ZB terbuka saat Sila hendak menarik diri. Sayangnya Sila nggak cukup lincah mencegah ZB memeluknya langsung. Kali ini malah Sila yang di buat terkejut dengan sikap ZB yang tiba-tiba. “Hehe, I know you will come here and kiss my head. Hm, I don’t know, when I sit in here, waiting you, and always feel sleepy..”
Lagi-lagi Sila mendorong ZB. Bukan menolak atau menghindar, tapi sesak napas. Pelukan ZB seolah gak memberinya ruang untuk bernapas. “If you wanna hug me, you can say it. Don’t do this!”
Lagi-lagi ZB tertawa sembari bangkit dan duduk bersebelahan dengan Sila. Bukan, kepalanya malah menyandar manja pada lengan Sila. . Bikin Sila ingin membelai kepalanya dan serta merta hilang rasa marahnya.
Sila menoleh lagi pada ZB. “Are you really sleepy?”
“Yes.” Katanya sambil mengucek-ngucek sebelah matanya..
“Go inside, and sleep.”
“No. I want sleep with you..” ujarnya manja.. Sila paling nggak tahan kalo cowok udah ngomong gini. Bikin gimana gitu.. apa mungkin terbawa suasana? tapi untung saja malam ini Elisya nggak tidur di rumah, jadi memberikan Sila waktu dan tempat yang cukup untuk sekedar tidur bareng. Kayaknya malem ini sengaja ngasih banyak kesempatan untuk Sila lebih intim sama ZB. Lebih intim bisa jadi lebih banyak bahaya. Tapi Sila kembali mengingatkan dirinya. No sex before married.
Akhirnya.. “Let's go sleep…” Sila berjalan masuk ke kamarnya duluan, dan memberi isyarat mata. Kedua jarinya bertaut, it means two and together.. Sila tau, ZB cukup pintar untuk mengetahui arti dari isyarat itu.

Auto Post Signature

Auto Post  Signature