Top Social

Love Letter #13 : Secangkir coklat panas

Tuesday, March 08, 2011
Malam ini isi pikiran saya kacau. Berantakan. Gak rapi. Gak teratur. Rasanya semua bagian ingin meneriakan uneg-uneg masing-masing. Bahkan hati juga ikut protes inginkan hal yang sama. Teriak. Keras. Bebas.

Serius.
Dua rius.
Tapi bukan Darius. Dia terlalu jauh hubungannya sama yang ini. Balik lagi ke hati yang ingin protes teriak tadi.

Hati, dan otak saya ingin sekali teriak. Karena jenuh. Karena merasa ada di tengah-tengah. Rasanya seperti terombang-ambing antara ya dan tidak.

Lalu...
Lalu satu bungkus coklat bubuk yang tergeletak di meja, menggoda saya untuk minta di seduh saat itu juga. Saat isi kepala dan hati sama galaunya. Katanya sambil berbisik "Sini seduh aku, aku bisa meredakan galaumu, menggantikan dengan aroma ketenangan."

Saya tergoda. Jelas. Bagi saya suara itu seksi sekali. Setelah beberapa menit meramu coklat dan air panas, tersajilah ia di cangkir hitam kegemaran saya. Si cangkir hitam yang selalu saya pakai untuk menyeduh coklat panas. Gagangnya yang kecil memang riskan, tapi warnanya yang hitam membuat saya tetap suka. Hitam itu seksi. Coklat panas saat galau itu sama seksinya.

Lalu ia berbisik lagi "ayo minumlah aku. Biarkan aku mengusir kegalauanmu sejenak. Membantumu menyebrang ke pulau mimpi, sampai kau terlelap." Rasa manis dan panasnya membuat saya menikmati setiap tetes sampai habis. Membuat otak dan hati saya kembali tenang. Nyaman. Paling tidak agak sedikit rapi isi kepala saya sekarang.

Ya, hanya dengan secangkir coklat panas di cangkir hitam kegemaran saya itu, sang galau bisa berpaling sebentar. Biar dia kembali lain waktu, saya usir lagi dengan secangkir coklat panas di cangkir hitam, sampai ia bosan datang.

Dannn... sekarang cangkir hitam itu sudah kosong, terlupakan di tempat cucian. Sampai nanti cangkir hitam. Sampai bertemu di kegalauan saya berikutnya..

Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

Auto Post Signature

Auto Post  Signature