Top Social

Love Letter #15 : Arti Hadirmu

Thursday, March 17, 2011
Kau (memaksaku) berpikir, hadirmu yang hanya datang dan pergi seolah malam lalu siang. Berlalu tanpa arti.

Dari caramu pergi, kau seolah membuat aku berpikir, "Mungkin aku bisa tanpamu."
Bukan pernyataan pasti "aku tak bisa tanpamu".
Kau bahkan tak memberikan pembelaan apapun atas kepergianmu.
Kau juga tak membela posisiku, dengan berkata, "Kau pasti dapat yang sesuai untukmu, yang memang untukmu" atau kalimat penghibur lain seperti "Aku kurang baik untukmu, pria tepat itu bukan aku".
Kau pergi begitu saja.
Berlalu begitu saja.
Berjalan menjauh.
Kau sengaja begitu, membuat posisi candu ku menjadi hanya pelengkap lalu pemanis..
Kemarin ini, kupikir kita adalah candu.
Seolah aku tak bisa melewatkan malam, kalau kau tak di sana.
Candu gila, yang membuatku selalu menanti, kejutan apa yang akan kudapat malam ini. Selalu malam. Selalu kejutan. Dan itu selalu kamu. Seolah kau malam untukku.
Dan dari caramu pergi melangkah sekarang, sepertinya kau ingin aku berpikir aku bisa melalui malam tanpamu. Sudah beberapa hari malamku tanpa kamu.
Hey, lihat! Aku tetap hidup. Aku tetap ada. Walau tanpa kamu. Tanpa bulan di setiap malam. Sepertinya aku tak perlu bulan di malam hari. Toh malam tetap akan lewat datang dan pergi tanpa bulan. Seperti kamu. Hariku juga tetap datang dan pergi tanpa kamu. Walau sesekali aku sempat kangen malamku memiliki bulan.
Aku masih menanti di sini. Seseorang yang membuatku kecanduan seorang dia. Si pangeran kata-kata. Yang tanpa kata-katanya aku tak bisa lagi bernapas. Bukan sebagai matahari, bulan, awan-awan atau bintang. Melainkan seperti udara. Membuatku tidak bisa hidup tanpanya. Membuatku hampir sia-sia tanpanya. Membuatku ingin mati saja tanpanya.
Aku sempat berpikir kamu adalah udara bagiku. Kebutuhanku. Sesuatu yang paling penting di atas yang terpenting.
Tapi tidak. Bukan. Sekarang, dari caramu berlaku Kau (sengaja) memaksaku berpikir kau bukanlah udara. Kau bahkan tak berusaha mencoba. Kau hanya bulan. Ada ketika malam datang, lalu lenyap begitu saja saat pagi mengusirmu.
Mungkin karena itu kau pergi. Ketika untukku kata-kata memiliki makna sebenarnya dan seperti udara untuk bernapas, bagimu itu hanya sekedar basa-basi juga pemanis hidup. Setelah lewat lalu terlupakan.
Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

Auto Post Signature

Auto Post  Signature