Top Social

Image Slider

Everything Happens For A Reason [Part 4]

Friday, May 27, 2011

Masa sekarang
Leta menaruh sebuket bunga di pusara sebuah kuburan yang tanahnya masih basah dan di penuhi bunga-bunga segar yang bertaburan begitu saja. Ia membelai kepala nisan yang masih berupa kayu dengan tulisan nama seseorang.
‘Rest in Peace our son, brother and friend : Rama Akasya 15 -11- 1988/20-12-2010’
Setelah mencari detail info soal Rama dari mba kasir ketika Leta mengunjungi sushi kafe itu lain waktu, Leta mendapatkan cerita lengkap tentang Rama Akasya dari Rashid Akasya, kembaran Rama. Mereka persis sama. Leta seperti melihat Rama ada di depannya lagi. Leta juga menceritakan mimpi anehnya tentang Rama pada Rashid. Leta tau itu hanya mimpi karena Leta memang gak kenal Rama sebelum 4 bulan yang lalu itu. Anehnya kedatangan Rama di taman waktu itu persis setelah beberapa hari kepergian nyata Rama. Rashid sepertinya sudah bisa menerima saudara kembarnya sudah gak ada, walaupun sedih itu masih kentara.
Di antar Rashid, Leta nyekar ke makam Rama. Ia duduk di samping makam. “Ram, gue gak tau mesti bilang apa. Gue belum sempet berterima kasih. Makasih banyak ya Ram. Gue janji untuk lebih perduli. Mimpi gue tentang lo emang aneh, tapi itu ngebuka mata gue. Maaf gue selalu berusaha menyangkal. Yes you right, everything happens for a reason. Tidur yang tenang ya Ram.”
Selesai berdoa, Leta pamit. Ia turut berduka untuk Rashid. Di rasanya, ia tak pernah kenal Rama dalam kehidupan nyata, tapi ia juga merasa kehilangan yang sama tentang Rama. Dalam hati kecilnya, Leta ikut menangis. Tapi cerita keperdulian kecilnya di mimpi itu telah merubah hidup Leta. Ia mengukuhkan janjinya pada Rama dalam hati. Dan sejak saat itu, Rama gak pernah lagi muncul di mimpi-mimpi Leta. Rama sudah pergi untuk selama-lamanya.
*Baca sebelumnya

Everything Happens For A Reason [Part 3]


2 bulan kemudian
Lagi-lagi Rama mendatanginya ketika hati Leta gak tenang. Seolah ada bel yang akan berbunyi saat Leta menghadapi masalah, dan Rama datang untuk menyelamatkan. Baginya, Rama sudah seperti pengganti sahabat-sahabatnya yang makin menjauh saat ini.
Mereka berada di sebuah halte saat itu. Entah di mana. Kali itu, wajah manis Rama yang terlihat lebih segar dari terakhir kali ia bertemu walaupun tetap kesan semakin pucat tetap ada, jelas membuat Leta paling tidak tersenyum. Entah kenapa, Leta merasa akan segera kehilangan Rama. Makanya tatapannya pada Rama lebih intens dari biasanya.
“Ah itu pikiran lo aja. Siapa yang bakal pergi? Misi gue di sini masih belum beres.”
Sebal pikirannya di colong terus, Leta cemberut. “Ram, stop masuk-masuk ke pikiran gue deh. Kita kan bukan kembar, dan ini pastinya bukan telepati. Curang banget, cuma lo yang bisa baca pikiran gue, sementara gue gak bisa.” Leta berdiri, dan bersandar tepat di sebelah Rama. Badannya dingin, tapi aromanya seperti wewangian dari bunga. “Btw, misi lo belum beres ya? Gue juga!”
Mendengar kata ‘kembaran’, ekspresi wajah Rama sedikit berubah. Sedih, jelas terpancar di situ. Ada sesuatu yang Rama sembunyikan. Walaupun penasaran, tapi lagi-lagi Leta gak mau nanya. “Misi apaan?” tanya Rama, yang bersandar di tiang halte.
“Ngeheal muka sedih lo yang pertama kali gue liat waktu itu. Jujur gue bukan orang yang perduli”, yang di jawab Rama ‘iya gue tau’, “Tapi entah kenapa gue malah pengen ngebantu elo. Tapi sepertinya gue malah ngebebanin elo dengan semua masalah-masalah gue.” Leta menghela napas. Sekarang ia sebal dengan dirinya sendiri. Bukannya membantu malah nambah-nambahin.
Tapi, tanggapan yang Leta terima justru di luar dugaan. “Siapa bilang belum beres? Sudah kok. Gue akuin sikap cuek lo itu emang ngerusak hidup lo, tapi gue bisa lihat elo pelan-pelan tapi pasti bakal bisa lebih perduli.”
Really?”
“Lo gak sadar, karena lo terus-terusan nyanggah itu. Coba deh belajar nerima. Mulai dari belajar nerima bokap lo udah gak ada. Tapi dia bakal selalu hidup untuk lo. Ingat semangatnya ngedukung cita-cita lo. Nyokap lo tuh sayang sama lo, cuma cara nunjukkinnya beda.”
‘Sayang? Kalo sayang gak mungkin dia ngusir gue secara halus gini. Bokap pergi karena Tuhan gak sayang sama gue! Apa gue segitu gak berharganya? Apa segitu bandelnya gue, sampe Tuhan ngehukum gue dengan cara kehilangan bokap tanpa pesan atau perpisahan dulu?’ tahu kemampuan ajaib Rama yang aneh soal ngebaca pikiran, rasanya gak perlu di ucapin lagi uneg-unegnya, toh Rama bakal membacanya juga.
“Iya, tapi tetep aja. Kalo lo ngomong kan lebih enak gue ngejawabnya.” Yang kali ini di respon Leta dengan, ‘tuh kan apa gue bilang!’.
“Bokap lo pergi dengan pesan kok. Cuma lo nya aja belum sadar. Tuhan sayang banget sama lo, sama bokap lo terlebih lagi. Gue gak sangka otak lo segitu bebalnya sampe gak mau coba ngelihat dari sisi lain. Jangan egois lah, Let. Lo hidup di dunia ini gak sendiri. Kalau gak bisa, untuk jadi perhatian lo juga perlu belajar lagi.”
Mata Leta memicing. “Kenapa sih omongan lo semuanya rasanya kayak nampar gue bolak-balik? Gak bisa lebih halus apa? Kan sakit!”
Rama tertawa. Bukan menghina apalagi meledek. Tawa itu justru ngebanjur hati Leta lebih hangat. “Karena lo emang perlu! Buka mata lo, buka hati lo. Everything happens for a reason, dear Aleta Anggriawan. Gak ada yang kebetulan. Kebetulan bokap lo meninggal karena Tuhan gak sayang sama lo? Atau kebetulan bokap meninggal terus nyokap malah deket sama Om Hanung? Atau kebetulan temen-temen lo ngejauh? Juga kebetulan kalau Deza tiba-tiba nyebelin dan gak perhatian lagi? Kebetulan itu hampir gak ada Let. Semua pasti ada alasannya. Semua pasti ada hikmahnya. Tuhan itu nguji elo, bukannya gak sayang sama lo. Justru karena Dia sayang banget sama lo. Bokap lo pergi karena sudah jalannya. Gak perlu nyalahin siapa-siapa. Mungkin lo perlu lebih prihatin dan belajar dewasa. Terutama belajar perduli. Wake up, dear!”
Berasa di nasehatin total, lagi-lagi hati kecilnya berontak. ‘Apaan sih ini? Kenapa juga dia sok perduli?’
“Sebab akibat, Leta. Gue perduli, buat nyadarin elo, kalau elo juga bisa perduli. Yang ini gak perlu di tutupin.”
Serius. Leta merasa seperti telepati satu arah dengan Rama. ‘Ram, lo tuh ngomong apa sih? Gak ngerti gue!’
Rama geleng-geleng kepala, sabar. “Lo yang dulu ngulurin tangan lo ke gue, mau ngeheal luka karena masalah gue, padahal lo gak kenal gue. When I said you are good, because you are!
Makin gak ngerti kemana arah obrolan ini, Leta makin gusar. Kereta berwarna putih bersih, bahkan yang terbersih yang pernah Leta lihat tiba-tiba berhenti tepat di depan mereka. Rama berdiri. Pintu kereta terbuka.
“Aleta Anggriawan, sekarang dengerin gue. Jangan egois begini. Itu gak akan ngebantu lo. Pikirkan orang lain. Belajar menghargai waktu. Belajar menghargai orang yang sayang dan perduli sama lo. Karena lo gak akan pernah tau apa yang ada di depan lo. Lo gak pernah tau kapan mereka pergi ninggalin elo. Belajar lah lebih peka. Gue kan gak terus-terusan ada di sini buat nasehatin elo. Gue juga punya tujuan. Lo juga, dan gue percaya itu baik.”
Itu terdengar seperti kalimat perpisahan. Leta memandangi Rama. Hatinya sedih. Perasaan ini pernah muncul saat hari terakhir ia melihat ayahnya sebelum sang ayah menghadap Yang Kuasa. Ketika perasaan ini datang lagi, air mata Leta gak sanggup bertahan lama-lama di mata. Akhirnya jatuh juga.
“Lo mau pergi?”
Rama maju lalu menggeleng. Sambil menghapus air mata Leta yang keburu jatuh, Rama berkata dengan, “Gak Let. Gue gak akan kemana-mana. Gue janji bakal terus di sini. Bokap lo juga terus ada di hati lo kan? Tapi gue mau lo janji sama gue, lo bakal belajar lebih perduli sama orang-orang sekitar elo. Kalau lo bisa ngulurin tangan saat bertemu gue di taman waktu itu, pasti lo bisa perduli dan peka untuk orang lain. Hidup lo masih panjang Let, jangan di sia-siain seperti ini ya..”
Rama bikin Leta merinding. Bukan karena angin semilir dingin seperti yang di rasakan kulitnya di Lembang waktu itu, tapi karena tangan Rama. Dingin. Tapi senyum Rama merekah. Wajahnya tenang sekali.
“Ram, misi lo udah beres?” Leta menoleh pada pintu kereta yang seolah masih menunggu Rama dengan sabar. “Lo seperti bersiap-siap untuk pergi. Ini bukan perpisahan kan? Kok gue ngerasa begitu ya. Ngerasa lo bakal menghilang, gue ngerasa gak bakal ketemu lo lagi.”
Dengan lembut tangan dingin Rama membelai rambut Leta. Lalu merengkuhnya ke pelukannya. Sukses membuat Leta menangis. “Iya misi gue udah selesai. Ini bukan perpisahan kok Aleta sayang. Kita pasti ketemu lagi, gue janji. Be good ya, Let. Take care of yourself and people who loves you most.”
Rama melepasnya. Lalu mengecup perlahan kening Leta. Lama, lalu mundur. Sebelum pintu kereta tertutup, Leta masih sempat melihat Rama tersenyum. Manis dan damai. Senyuman itu paling damai yang pernah Leta lihat. Seperti senyuman ayahnya ketika Leta melihat sang Ayah terakhir kalinya di rumah sebelum di makamkan. Leta sempat membalasnya sebelum kereta itu menghilang perlahan. Hati Leta nyeksek. Sekarang ia sendiri lagi.
*Baca kelanjutannya di sini >> Everything Happen for A Reason [Part 4/End]
*** Di tunggu komentarnya.. Makasih!

Everything Happens For A Reason [Part 2]


Baca cerita sebelumnya di Everything Happens For A Reason [Part 1].
1 bulan kemudian
Leta uring-uringan. Deza, pacarnya mulai rese. Alesannya mulai macem-macem. Selalu menghindari dirinya tanpa alesan yang jelas. Mulai jarang masuk kampus. Gak ada teman-temannya yang tau kemana Deza pergi. Kadang ada, kadang gak ada. Buat Leta, Deza makin gak tergapai. Padahal di saat seperti ini, ia berharap Deza ada untuknya. Mendengar semua ceritanya. Tapi yang ia dapat malah sebaliknya.
Malam itu, Leta bertemu lagi dengan Rama, si cowok misterius yang sudah lama gak muncul. Karena lagi ribet-ribetnya soal hidup yang di rasanya gak lebih baik, sampai-sampai Leta gak menyadari kehadiran Rama yang absent beberapa waktu. Sampai ia muncul lagi hari itu. Di sebuah dapur, dan Rama tengah membuatkannya sushi, makanan favorite Leta ketika galau melanda.
“Lama gak ngeliat lo, kemana aja?” Tanya Leta sepintas, sambil melahap salmon segar yang tersaji di piringnya.
Rama tersenyum, tangannya terampil memilin nasi dengan nori1. “Yeah, yang punya masalah kan gak cuma elo.”. Rama menaruh alpukat dan udang, lalu menggulungkan nasinya lagi. “Mengunjungi keluarga gue. Kangen banget sama mereka. Sedih karena mereka belum bisa ikhlas, dan nangis terus. Apalagi anak dan istri gue, juga sodara gue. Pengen banget meluk mereka, sayangnya gue gak bisa.”
“Kenapa gak?” Leta menyomot nori nganggur di talenan kering dekat tangan hebat Rama. Tapi Rama nampak cuek. Di sadarinya, kepala Rama sudah gak bocor darah kayak kemarin. Kali ini bersih, wajahnya agak pucat tapi cerah. Pelipisnya sudah di jahit, ada plester putih di situ.
Because, the thing wasn’t simple same like before.” Jawab Rama dengan penekanan di kata ‘the thing’.
Compare to mine, maybe yours were better. Deza, cowok gue ngilang terus. Ada aja alesan pas gue butuh dia. Padahal gue cuma perlu temen buat curhat. Gue pengen di denger. Sementara gue dan nyokap malah ribut terus. Dia maunya gue pergi sejauh mungkin, sampe perlu yaa nyekolahin gue ke luar negeri segala. Kuliah ke luar emang impian gue, tapi setelah bokap gak ada, kayaknya impian itu ilang aja. Sementara kayaknya nyokap pengennya gue gak gangguin dia. Di pikirnya gue gak tau kali soal dia dan Om Hanung. Sebegitu mudah yaa nyokap ngelupain bokap?!” Leta sebal bukan main, inget lagi kejadian yang bikin dirinya uring-uringan. Bukan satu masalah, tapi 3 sekaligus. Kayaknya gak ada yang bisa lebih parah dari ini.
“Jangan di bandingkan dong. Masalah gue jelas beda. Tapi anyway, gue tau kok masalah lo masih bisa beres. Ada jalan keluarnya. Lo cuma perlu satu hal untuk ngeberesin itu semua.” Rama sudah selesai dengan sushinya. Ia pintar menatanya. Cantik sekali. Rama jelas-jelas berbakat.
Leta menghela napas. Gak pernah kepikiran solusi yang cukup bagus untuk semua masalahnya. Kayaknya semuanya sama aja. “Apaan?” tanyanya agak malas.
“Perduli. Perhatian. Dan tingkatkan tuh kedewasaan elo dalam menyikapi keadaan. Inget, yang punya masalah bukan cuma elo. Semua orang punya masalahnya masing-masing. Misalnya, cowok lo. Siapa tahu dia memang punya masalah sendiri, yang belum bisa di ceritain ke elo karena suatu hal? Kenapa lo gak coba Tanya dan lebih peka? Yang perlu perhatian di saat-saat sulit kan gak cuma elo.”
‘Klise!’ protes Leta dalam hati.
Seolah bisa tahu apa yang di pikirkannya, Rama membacanya juga. “Iya gue tau, klise kan? Tapi memang itu kok jalannya. Dan soal nyokap lo. Kenapa gak pernah terpikir di kepala lo, kalau nyokap lo juga terpukul tentang kepergian bokap? Gak sadarkah elo, dia perlu juga dukungan orang lain, yang mungkin ia dapatkan dari Om Hanung. Apalagi di saat anaknya sendiri terpuruk dan masih gak bisa nerima keadaan. Nyokap lo berusaha sekuat dan setegar mungkin di depan lo, bukannya dia gak sedih. Dia kehilangan setengah jiwanya, dan sekarang mesti berdiri sendiri. Lo gak perlu salahin Om Hanung kegatelan atau apa. Dia memang perduli!”
Kata-kata Rama barusan seolah menamparnya bolak-balik. Setengah hatinya membenarkan semua perkataan Rama. Namun masih, hatinya yang lain mencari pembenaran atas teorinya yang masih ragu tentang semua ini. Setelah melahap sushi terakhir di piringan, Rama berlalu. Mungkin bahkan Rama pun jengkel melihat Leta terlalu egois. Di saat seperti ini, ia berharap ayahnya datang dan memeluknya erat.
..... to be continued. Baca lanjutan di >> Everything Happens for A Reason [Part 3]



Everything Happens For A Reason [Part 1]



Everything Happens For A Reason*
Apakah sebuah pesan bisa datang bahkan dari orang yang gak pernah kita kenal sebelumnya, terlebih ia datang lewat mimpi?
Aleta Anggriawan, tercenung memandangi sebuah figura sederhana ukuran besar yang di pajang di dinding persis depan meja kasir, saat ia hendak membayar sushinya sore itu. Mendadak hatinya di landa kesedihan luar biasa, juga sesak yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, apalagi saat ia membaca keterangan dan nama si empunya foto.
‘Always in our heart. Rama Akasya (Ride in Peace 20 – 12 - 2010)’
Tak terhindarkan, setetes air mata menitik saat ia mengerjap. Membuat si mbak kasir bingung, takutnya ia berlaku salah sampai membuat cewek cantik dan tinggi di depannya berkaca-kaca begitu. Di tiliknya cewek itu, yang masih memandangi foto di atas kepalanya.
“Eh mbak, gak apa-apa?”
Leta kembali ke dunia nyata. Tersadar dengan teguran itu, ia menghapus air matanya. Dan rasa penasarannya cukup kuat, membiarkan dirinya bertanya pada si penjaga kasir.
“Itu siapa?” Tanya Aleta sambil menunjuk foto tadi.
Si mbak kasir kaget juga di tanya begitu. Agak terkejut dengan pertanyaan bernada peduli itu. “Itu Mas Rama mbak, yang punya kafe ini. Meninggal 4 bulan yang lalu.”
“Karena?”
“Kecelakaan motor di Lembang.”
DEG!!
Lembang? Aleta makin terkejut lagi. Serius, ia bukan pecinta cerita kebetulan. Tapi yang ini terlalu aneh bahkan untuk sebuah kebetulan sekalipun.
‘Gak mungkin! Gak mungkin dia kan?’. Sesaat ia berharap ada seseorang yang menampar saja wajahnya, bolak-balik sekalian. Leta tahu ini aneh banget dan gak mungkin terjadi. Sekali lagi ia memandang foto itu. Terlalu mirip untuk sebuah kebetulan. Leta geleng-geleng kepala untuk mengusir pikiran paling gak mungkin terjadi, yang sempat melintas di kepalanya.
“Mbak, ini kembaliannya.”
Kikuk, Leta menerimanya juga. saat itu juga perhatiannya teralih dari figura besar ke sebuah foto ukuran postcard kecil di sudut ruangan. Leta merasa ia ingin memotret si cowok, demi meluluhkan rasa penasarannya. Tapi si mbak kasir itu malah mencegahnya.
“Mbak, gak usah di foto.” Ia mengambil foto di sudut dinding dan menyerahkannya pada Leta. “Ambil ini aja fotonya. Ini yang terakhir.”
Setelah berterima kasih dan memasukkan foto itu ke dalam tas, Leta langsung pamit dan lari ke dalam mobil. Bukannya langsung menyalakan mobilnya dan pergi, ia malah lagi-lagi melamun, sambil berusaha mengingat-ingat siapa cowok di foto tadi yang sekarang berada di tangannya itu. Leta meragukan ingatannya, yang paling jelas sekalipun. Ia seperti terlempar ke cerita tentang dirinya dan seseorang beberapa bulan lalu. Lokasinya, tepat di Lembang, atau tempat semacam itu, yang paling tidak masih bisa di ingatnya.

4 bulan lalu
Leta menemukan seseorang duduk sendiri di sebuah taman, di daerah pegunungan Bandung, tanpa baju hangat ataupun sweter. Hanya jaket motor warna hitam. Padahal udara di Lembang saat itu cukup menusuk. Leta saja masih sedikit menggigil walau sudah berjaket tebal. Rambutnya awut-awutan. Darah mengalir di kening sebelah kanan. Cowok itu terduduk lemas dengan kepala menunduk. Jadi Leta gak bisa lihat wajahnya dengan jelas. Terkesan misterius. Bukannya merasa seram atau ngeri, Leta malah di gerayangi rasa penasaran, sampai akhinya ia putuskan untuk menghampiri si cowok itu.
Pelan-pelan Leta duduk di samping cowok itu, lalu memperhatikan lebih seksama. Cowok itu berpostur cukup ideal. Pasti tinggi, tebaknya. Darah yang mengalir di kepalanya gak terlalu banyak tapi lumayan bikin penasaran kok kesannya orang ini malah gak terganggu sama sekali karenanya. Darah itu ada juga di telapak tangannya yang memeluk sebuah helm rusak. Kacanya retak. Seperti habis terkena benturan keras. Secara umum, cowok itu benar-benar dalam keadaan yang berantakan!
Keadaan itu memancing Leta untuk bertanya. “Hey, kamu gak apa-apa?” Leta menahan ucapannya sambil mencari kata-kata yang tepat selanjutnya. Tak ingin terdengar sok ikut campur, buru-buru ia menambahkan, “Gak bermaksud ikut campur, tapi kamu terlihat agak kacau. Dan juga, itu kepalamu berdarah.”
Leta buru-buru mengambil tissue yang selalu tersedia di tasnya. Hendak membersihkan sedikit darah segar yang masih mengalir di pelipis kepala cowok itu. Belum sempat tissue itu sampai ke pelipisnya, cowok di samping Leta menoleh. Raut wajahnya sedih. Ada air mata di ujung matanya. Leta terhenyak melihatnya. Walaupun gak mengerti apa yang baru di alami cowok itu. Tatapan intens cowok itu terasa berbeda, tapi jelas bukan terganggu karena ‘perhatian’ Leta. Belum reda kekagetan Leta karena tatapan itu, ia akhirnya mendengar suara cowok itu juga lewat ucapannya yang hangat dan terasa familiar sekali.
“Gak usah di hapus Let, biarin aja begitu.” Cowok itu menghapus air matanya, tapi tidak dengan pelipisnya. Ia terlihat sama sekali gak terganggu apalagi merasa sakit dengan itu. Ia meregangkan badannya, lalu duduk tegak. Posisi tubuhnya sudah jauh lebih santai daripada tadi. Masih memeluk helmnya yang rusak, cowok itu meneruskan, “Lo sendirian juga?”
Tangan Leta memang turun dan mengurungkan niatnya membersihkan luka itu, tapi ia malah memberikan tissue itu ke si cowok. “Nih, hapus lukamu, you’ll look much better.” Lalu Leta tersenyum.
Di lihatnya cowok itu memaksakan senyumnya. Leta boleh bilang cowok itu berantakan, tapi jelas ia manis. Warna bibirnya agak pucat, seperti wajahnya. Sinar matanya sendu dan dalam. Mungkin ia baru mengalami sesuatu yang benar-benar membuatnya terpuruk. Apapun itu, Leta hanya merasa ia ingin membantu memulihkannya. Jarang sekali Leta merasa seperti ini. Perduli. Apalagi sama orang yang gak pernah ia kenal sebelumnya. Perduli itu sifat yang akhir-akhir ini jauh sekali dari tangan dan hati seorang Aleta Anggriawan, bahkan Leta pun menyadari itu sendiri. Buatnya buat untuk apa perduli, toh orang lain juga gak perduli pada dirinya. Terlebih lagi setelah Ayahnya meninggal 2 bulan lalu, tanpa pesan. Itu membuat hubungannya dengan sang ibu makin memburuk. Hidupnya juga berantakan. Walau di luarnya tidak terlalu kentara. Tapi dalam hatinya, mungkin lebih berantakan, seperti… seperti cowok di sampingnya ini. Hidupnya jelas tak sama lagi setelah sang ayah pergi di panggil Yang Maha Kuasa.
Tapi melihat entah apa masalah cowok ini, akhirnya membuat Leta berkata, “Gue gak tau masalah lo apaan. Iya gue sendirian. Selalu ngerasa sendirian setelah bokap pergi. Skenario hidup memang gak ada yang bisa nebak. Tau-tau kita terdampar di tempat yang sama, ngerasa sendirian. Ngerasa hidup kita udah berakhir saat ini juga, tapi siapa yang tau kan?”
Cowok itu hanya bisa tersenyum pahit mendengar omongan Leta. Mungkin menyentuh bagian yang paling vital di hidupnya. Mungkin itu berhubungan dengan masalahnya. Tapi Leta senang bisa membuatnya paling tidak mau tersenyum. Leta menggeser posisi duduknya, kali ini menghadap si cowok langsung. “Listen, gue gak tau lo baru aja ngalamin apa. Tapi share mungkin bisa ngebantu. Gue gak terbiasa perduli sama orang, apalagi yang asing sekalipun. Tapi melihat lo, bikin gue pengen stay. Gue juga gak tau seberapa banyak gue bisa ngebantu masalah lo, tapi lebih baik kecil daripada gak sama sekali kan?”
Kali ini senyum cowok itu mengembang lebih baik. Lalu mengangguk pelan. Leta menambahkan, “Dan please, hapus darah itu. Gue bukan penggemar fanatik darah-mengalir-di-kepala. Looks creepy. Looks tragic.”
“Lo cewek baik.”
Kali ini Leta yang tersenyum. Lalu ia berdiri dan mengulurkan tangannya pada si orang asing. “Hm yeah, tapi sayangnya hidup gak berlaku demikian sama gue. My life is a mess. I wish yours were better. Let’s go, find something to heal yours.”
Cowok itu menyambut tangan Leta, dan tertawa. “Rama. Panggil gue Rama. You don’t know that yours are much better than mine now. You don’t know me. But I know yours.”
Leta menyahut. “You’ll get better.”
“You too..”
........... (to be continued) >> klik Everything Happens for a reason [Part 2] untuk baca lanjutannya.
*Cerita ini juga saya ikutkan dalam kompetisi yang bekerja sama dengan Nulisbuku untuk project #icare.
#minta komentarnya yaa... thx.


QtD 23 May 2011 : cinta itu mudah!

Monday, May 23, 2011
Jatuh cinta itu prosesnya simple banget. Kalau jatuh ya jatuh. Terus suka, lalu turun ke hati. Dan prosesnya teratur.

Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

Unconscious Love

Saturday, May 21, 2011
I wondering something that actually Love is only for people who are awake, conscious, and alive. You think it's true? I don't know how love do works for someone who are under control of weed, alcohol and drugs.

He said about proper love the night before, message me all the time, try to get me when he 'need' and won't let me go until he get what he wanted.

Hey boy, it hurts actually.
it's was his trick.
it's always him.
Not mention its "good" or "bad" one.
But, somehow he still call me back.
But, somehow he still keep coming back.

He just talk about to have a proper love.
He is actually hope to get a proper love.
Not a love only last for half an hour.
Not a love only last during a movie time.
Not a love only last for a bottle of vodka.
Or not a love only last for a night together.

Where is the all conscious thing you have before?
Where is the all proper love you talked before?

Hey Boy,
For people like you, the real love maybe just not exist.
Love is a myth.
You live with a minimum of existence of Love.
Or just the real love simply not found you, yet.

Until I forget, do you think he really have a real feelings?

If someone know sure about this, please do tell me something.
Just anything.

Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

Dikecup hujan (10:56)PM

Thursday, May 19, 2011
Siang-siang panas gak karuan.
Langit bilang itu tanda hujan akan datang.

Ketika sore, langit warnanya orange.
Langit bilang, dia menelan seluruh cat oranye milik pelukis jalanan..

Ketika menjelang malam, matahari pamit.
Ia tidak meninggalkan pesan.
Hanya berlalu begitu saja.
Bahunya cuek.
Langit setuju.
Warnanya sudah gelap.
Hampir hitam. Bikin aku senewen.

Dikejauhan petir sudah ketar-ketir.
Samar-samar runcing-runcing air turun dari langit.
Dingin, Kecil-kecil mengecepku.
Tepat di pipi.
Tepat di kening.
Lalu turun ke bibir.
Otomatis romantis.
Datangnya cepat, kemudian kabur buru-buru.
Katanya, ingin mengecup tempat lain. Lalu hujan pergi.

Langit masih gelap, mendung.
Tapi senyumnya kembali.
Lalu bilang mengucapkan selamat malam dan
mengantarkanku ke gerbang pulau mimpi sampai aku terlelap.

Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

Malam yang Ramai (8:32)PM

Melewati malam ini tak sendiri.
Ada pilek di hidung.
Radang di tenggorokan.
Tissue bertebaran manis sembarangan di meja.
Ipod di telinga memutar lagu asal dari suara menggalau mendayu milik Sammy ex kerispatih sampai DJ Sammy.

Ditemani Mr.Grey yang meringkuk bulat-bulat di antara tas dan tas di lantai.
Mencari sejuk.
Padahal bulunya setengah panjang-panjang.
Padahal itu membuatnya kepanasan.
Padahal di luar dingin, beku mungkin.
Hujan sudah sampai di sini.
Di barengi petir ketar-ketir.
Lagit gelap baru saja.
Lalu hujan pamit.
Dan aku sendiri lagi.

Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

QtD 19 May 2011 : scene yang berbeda

Suka merasa sedikit bitchy tiba-tiba setelah melihat si mata elang natap segitu dalamnya dengan senyum yang tidak ramah atau si kucing garong memperlihatkan indah bentuk dadanya sekarang saat ia mengerang melihat musuh. Bukan membayangkan yang tidak-tidak saat berada di antara keduanya, lalu jari bermain-main di antara mereka. Tapi tetap saja.

Bahkan seorang Peri Hutan pun merasa bitchy ketika membayangkan keduanya ada dalam 1 scene bersama, main-main sedikit nakal lalu pergi diam-diam tanpa suara. Bitchy tapi manis. Tetap bitchy walau manis.

Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

The music that I didn't write - OST Suckseed

Saturday, May 14, 2011
This song might be not melodious as other songs
But for me, this song is full of meaning.
In every note and word that is written

From the smile you gave, guided the pen to communicate the feeling, into a melody that rhymes with my emotions
Do you know how I did it?
Its all because of you

This song you are listening right now
I didn't compose it.
Do you know?
I don't dare to do it, oh darling
Do you know who composed this song?
Remember always,
This song you're listening to right now
I didn't compose it
Do you know?
I don't dare to do it, oh darling
Do you know who composed this song?
Remember always, the person is you!

Do you know how I did it?
It's all because of you

This song you are listening right now
I didn't compose it.
Do you know?
I don't dare to do it, oh darling
Do you know who composed this song?
Remember always,
This song you're listening to right now
I didn't compose it
Do you know?
I don't dare to do it, oh darling
Do you know who composed this song?
Remember always, the person is you!
Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

Deep in My Heart - Big Ass (ost Suckseed) translate Eng

This is the rhythm of the memories between us
Whenever I hear it, it reminds me of our good old days
No matter how long the time has passed but our song is still deep in my heart.

What is the love song you had ever sung? On your lonely days, which song did you think of?
Since we've been apart, how are you today? I want to know.

Clocks are never lazy to run
Time makes everything change
But all my good memories are still kept in my mind.

I still have only you that have never changed
I have only you that have never changed
The more I feel lonely, the more my heart calls for you.

Our same old song is still in my mind
Whenever I hear it, I still get the same old feeling.
No matter how long the time has passed, but this song is still in my heart.

The day I couldn't reach my dreams,
I lost my way and drifted through life.
But at least I was still glad, that I had ever had you.

Clocks are never lazy to run
Time makes everything change
But all my good memories are still kept in my mind.

I still have only you that have never changed
I have only you that have never changed
The more I feel lonely, the more my heart calls for you.

Our same old song is still in my mind
Whenever I hear it, I still get the same old feeling.
No matter how long the time has passed, but this song is still in my heart.

No matter how long we have never gotten together
This song is still deep in my heart.

Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

My Top 15 of May 2011 Playlist

Friday, May 13, 2011
"If you want to know someone's mood at this time, open they iPod playlist and
listen to the music that they play everyday, back to back.
Not only you can know they mood, but also you might be can read their personality."
~ Peri Hutan ~

Playlist Name : Suckseed
1. Deep in my heart - Jirayu Laongmanee - OST Suckseed
2. The song i didn't compose (thai song) - Arena - OST Suckseed
3. What the Hell - Avril Lavigne
4. Hey, soul sister - Train
5. My life would suck without you - Kelly Clarkson
6. Back To December - Taylor Swift
7. Fuckin Perfect - Pink
8. Pyramid - Charice ft Lyaz
9. Whataya want from me - Adam Lambert
10. The boys of summer - DJ Sammy
11. Heaven - DJ Sammy
12. I'm Yours - Jason Mraz
13. Need you now - Lady Antebellum
14. The only exception - Paramore
15. Lucky - Jason Mraz ft Colbie Caillat
Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

Love Letter #24 : Si Cinta Lama

Saturday, May 07, 2011
Dear kamu, cinta lamaku...
Tiba-tiba pengen tau kabarmu. Tiba-tiba kangen euforia ketika aku lagi kangen kamu. Tiba-tiba guling-guling sendiri di kasur saat ingat kamu, lalu senyum-senyum malu. Muncul kupu-kupu menggelitik perutku.
Sudah 7 tahun berlalu, bahkan lebih. Sudah gak tau lagi kabar tentang kamu. Tapi masih terkadang kangen kamu.
Setelah 7 tahun, aku balik lagi ke tempat yang sama. Yang selalu mengingatkanku tentang kamu. Tentang kita. Tentang kamu sebagai oksigen dan bulan di malamku. Tentang kita, suka-sukaan tapi malu-malu kucing mengakuinya. Tentang kamu datang padaku lalu kita tertawa bersama. Tentang aku datang padamu, sebenarnya ingin melepas rindu, lalu kita saling ejek kemudian pura-pura ngambek tapi dalam hati saling merindu.
Sekarang, setelah 7 tahun berlalu, sekedar iseng aku mencari namamu pada kotak cari paman Google. Sekedar iseng ingin tahu apa kamu sudah berpemilik. Aku belum. Entah hatiku masih mengharapkanmu, atau masih ada hutang belum memberi tahumu soal rasaku.
Kini, setelah 7 tahun. Kita bertemu lagi. Bertatap muka lagi. Di taman kita. Akhirnya. Euforia cinta itu tumbuh kecil-kecil bikin geli, seperti ketika kakiku yg telanjang menyentuh rerumputan.
Kamu banyak berubah. Lebih tinggi. Lebih macho. Badanmu pun gak sekurus dulu. Lebih berwibawa. Lebih tampan. Tapi yg gak pernah hilang, senyum gingsulmu masih di situ walau sudah 7 tahun.
Ah kamu! Iseng bikin kangen semua duniaku yg dulu isinya kamu melulu. Sekian tahun suka kamu, sampai kamu menghilang ke negeri org. Lalu ikut menghilang dari pandangan n terakhir luntur pula dari duniaku.
Sekarang kamu kembali. Cuma satu yg ingin aku bilang. "Hey kamu, aku kangen kamu. Setengah mati kangen kamu. 7 tahun lalu setengah mati suka kamu. Sekarang 7 tahun setelahnya, setengah mati cuma ingin bilang aku pernah suka kamu. Sekedar melepas beban hati. Mungkin terlambat sudah, tapi aku gak perduli!"
Setelah 7 tahun berlalu, ketika aku sudah menyampaikan rasa terpendamku, rasanya siap melihatmu pergi lagi. Tapi selalu ingin bilang lagi, "Hey kamu, cinta lamaku, apa kabarnya?"
*Biar deh kenangan itu awet di kotak namanya masa lalu. Gak pernah menyesal gak bilang perasaanku dr dulu. Itu yg bikin aku bisa lihat kamu sekarang, sedikit kangen, tapi tenang... Hanya mengenang kalau dulu itu sedikit manis namun masih indah. :D

Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

Berantem itu pondasi kokoh persahabatan!

Wokehh...

saya mulai gak tahan buat ngoceh.. semoga nantinya blog saya gak jadi pabalatak karena semua ada, dari info tempat, puisi-puisi (baca : ungkapan hati terdalam) saya, sampe sekarang muncul yang terbaru #cuap-cuap. iya cuap-cuap, yang mangap-mangap kayak ikan...

eniwey, saya baru aja kirim email ke salah satu temen saya yang beberapa waktu lalu be-betean sama saya karena omongan saya yang ngelantur.. eihh, Peri Hutan manusia biasa, tepatnya cewek biasa yang bisa menggalau juga. yak, selain menggalau, saya juga demen banget kirim email panjang-panjang.. sekalian curcol. hehehe. intinya sih cuma bilang (iye tau, nyebelin abis kan kalo isi email panjang na-u-jubilleh itu cuma separagrap, atau malah cuma sebaris aja), kalau kita berantem sekarang ya gak apa-apa. someday pasti kita baik-baik lagi. bisa saling ngerti.

Nah kalian pasti pernah dong berantem sama sahabat sendiri karena masalah kecil. berantemnya sering tapi. saya pernah. dahuluuu kala. sama orang (cowok. hehe) yang sekarang malah temenan baikkkk banget sama saya. Sebut saja Mr.Smile. Berantem karena masalah kecil-kecil.. dulu mikirnya ini nih pasti udah di ujung tombak, pasti gak mungkin jadi baik lagi. mikirnya udah jalan yang paling simple sih, berenti jadi temen. gak perlu pusing-pusing... apalagi namanya abg kan labil yaa.

tapi ternyata saya salah. salah besar. Somehow, berantem itu pondasi kokoh persahabatan. Kenapa saya bilang gitu? Coba deh kalian pikir, kalau kalian gak pernah berantem, sekaliiii aja, kalian gak akan pernah bisa saling ngerti emosi dan pikiran temenmu. Beda pendapat itu hal yang biasa, sama biasanya kayak berantem. sekalian nguji sampe mana kedewasaan kalian buat nyelesein masalah. Sebenernya masalah dateng itu bukan buat ngehancurin kok. Tapi malah buat nguji. Sejauh mana kekuatan persahabatan kalian. kalo baru senggol dikit udah rontok, yaaaa berarti kalian temenannya sedangkal air sungai.. harus ada ombak kuat dulu, baru deh kalian sampe di tahap rumah beton. Hey, beton aja bisa ancur karena tsunami.. mulai deh random..

But eniwey, buat kalian yang lagi ngadepin masalah sama sahabatnya. Jangan mikir it's end of your friendship. belum tentu kok. sekarang, saat ini mungkin begitu. coba deh setelah sekian tahun, siapa tau kalian gak terpisahkan. Hey, gak ada yang tau. Kayak yang seorang temen saya bilang itu, Maybe all we need is just time. Let the time answer all the question. Let the time decide. Let the time take care of it. Maybe have to passed the worst part, before it gets better.

Jadi jangan pernah mikir berantem sekali sama temenmu, terus mikir gak mungkin bakal temenan lagi sama dia. You'll never know. Saya juga berharap, suatu saat saya bakal bisa selanggeng saya dan Mr.Smile sama temen yang baru saya cekcokkin lewat email barusan.

So, Cheers!!

love Letter #23 : Sebuah surat bodoh

Sunday, May 01, 2011
Hey kamu,

Aku lelah...
Lelah berjalan, lelah menunggu juga lelah berharap.

Sementara kamu masih juga berdiri di situ. Tertawa seperti tidak pernah merasa sakit. Tertawa seperti tidak pernah merasa tersakiti. Tertawa seperti tidak pernah merasa menyakiti.

Serius, kali ini, ini bukan surat cinta. Mungkin ini hanya satu di antara sekian banyak surat cinta yang kukirim untuk banyak orang. Aku tidak suka menulis surat benci... Itu melelahkan. Aku cuma bilang ini bukan surat cinta. Aku bahkan masih gak tau kenapa aku harus menulis surat bodoh ini untukmu. Untuk kamu yang menyakiti ku. Merusak hari ku. Mengoyak hatiku. Lalu kamu pergi menjauh. Kamu kabur. You are a piece of jerk!!

Pernah kah kau berpikir 1 detik saja dalam hidupmu, kalau kamu punya pilihan?
Pilihan untuk tidak memilihku.
Pilihan untuk tidak muncul di hidupku.
Pilihan untuk tidak menjadi matahari sementaraku.
Pilihan untuk tidak menjadi bulan di malamku.

lalu pilihan untuk tidak kabur setelah menghancurkanku?

Hidup itu penuh pilihan, walaupun sepenuhnya memang misteri. Tapi pernahkah kamu berpikir untuk menolak jalan menuju aku?
Aku hancur, setelah kamu.
Aku sakit, kamu pergi.
Aku... aku bahkan benci diriku sedetik aku memikirkanmu lagi.

You are a piece of jerk and you should know that!!

Tolong pergi dan jangan pernah kembali.
Tolong ambil semua rasa yang pernah kau 'hadiahkan' untukku.
Tolong tarik semua 30% rasa paling bodoh yang kau tawarkan.
Tolong angkat kakimu dari situ, dan hilang dari duniaku, tanpa jejak.

Let me walk on my own now. I don't need a person like you in my life. Like you never think i'm a good person on yours.
Let me handle my life now. I don't want to see you stand stupid there. Like you don't care so much.

PS. Kalau suatu saat kamu melihatku di jalan, tolong berbalik, jangan pernah menyapaku, & jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Karena kita bukan teman lagi. Seorang teman takkan pernah meninggalkan lubang luka seperti ini. Like i said before, you are a piece of jerk, and you should know that. Coz i hate you now...

Auto Post Signature

Auto Post  Signature