Top Social

Everything Happens For A Reason [Part 1]

Friday, May 27, 2011


Everything Happens For A Reason*
Apakah sebuah pesan bisa datang bahkan dari orang yang gak pernah kita kenal sebelumnya, terlebih ia datang lewat mimpi?
Aleta Anggriawan, tercenung memandangi sebuah figura sederhana ukuran besar yang di pajang di dinding persis depan meja kasir, saat ia hendak membayar sushinya sore itu. Mendadak hatinya di landa kesedihan luar biasa, juga sesak yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, apalagi saat ia membaca keterangan dan nama si empunya foto.
‘Always in our heart. Rama Akasya (Ride in Peace 20 – 12 - 2010)’
Tak terhindarkan, setetes air mata menitik saat ia mengerjap. Membuat si mbak kasir bingung, takutnya ia berlaku salah sampai membuat cewek cantik dan tinggi di depannya berkaca-kaca begitu. Di tiliknya cewek itu, yang masih memandangi foto di atas kepalanya.
“Eh mbak, gak apa-apa?”
Leta kembali ke dunia nyata. Tersadar dengan teguran itu, ia menghapus air matanya. Dan rasa penasarannya cukup kuat, membiarkan dirinya bertanya pada si penjaga kasir.
“Itu siapa?” Tanya Aleta sambil menunjuk foto tadi.
Si mbak kasir kaget juga di tanya begitu. Agak terkejut dengan pertanyaan bernada peduli itu. “Itu Mas Rama mbak, yang punya kafe ini. Meninggal 4 bulan yang lalu.”
“Karena?”
“Kecelakaan motor di Lembang.”
DEG!!
Lembang? Aleta makin terkejut lagi. Serius, ia bukan pecinta cerita kebetulan. Tapi yang ini terlalu aneh bahkan untuk sebuah kebetulan sekalipun.
‘Gak mungkin! Gak mungkin dia kan?’. Sesaat ia berharap ada seseorang yang menampar saja wajahnya, bolak-balik sekalian. Leta tahu ini aneh banget dan gak mungkin terjadi. Sekali lagi ia memandang foto itu. Terlalu mirip untuk sebuah kebetulan. Leta geleng-geleng kepala untuk mengusir pikiran paling gak mungkin terjadi, yang sempat melintas di kepalanya.
“Mbak, ini kembaliannya.”
Kikuk, Leta menerimanya juga. saat itu juga perhatiannya teralih dari figura besar ke sebuah foto ukuran postcard kecil di sudut ruangan. Leta merasa ia ingin memotret si cowok, demi meluluhkan rasa penasarannya. Tapi si mbak kasir itu malah mencegahnya.
“Mbak, gak usah di foto.” Ia mengambil foto di sudut dinding dan menyerahkannya pada Leta. “Ambil ini aja fotonya. Ini yang terakhir.”
Setelah berterima kasih dan memasukkan foto itu ke dalam tas, Leta langsung pamit dan lari ke dalam mobil. Bukannya langsung menyalakan mobilnya dan pergi, ia malah lagi-lagi melamun, sambil berusaha mengingat-ingat siapa cowok di foto tadi yang sekarang berada di tangannya itu. Leta meragukan ingatannya, yang paling jelas sekalipun. Ia seperti terlempar ke cerita tentang dirinya dan seseorang beberapa bulan lalu. Lokasinya, tepat di Lembang, atau tempat semacam itu, yang paling tidak masih bisa di ingatnya.

4 bulan lalu
Leta menemukan seseorang duduk sendiri di sebuah taman, di daerah pegunungan Bandung, tanpa baju hangat ataupun sweter. Hanya jaket motor warna hitam. Padahal udara di Lembang saat itu cukup menusuk. Leta saja masih sedikit menggigil walau sudah berjaket tebal. Rambutnya awut-awutan. Darah mengalir di kening sebelah kanan. Cowok itu terduduk lemas dengan kepala menunduk. Jadi Leta gak bisa lihat wajahnya dengan jelas. Terkesan misterius. Bukannya merasa seram atau ngeri, Leta malah di gerayangi rasa penasaran, sampai akhinya ia putuskan untuk menghampiri si cowok itu.
Pelan-pelan Leta duduk di samping cowok itu, lalu memperhatikan lebih seksama. Cowok itu berpostur cukup ideal. Pasti tinggi, tebaknya. Darah yang mengalir di kepalanya gak terlalu banyak tapi lumayan bikin penasaran kok kesannya orang ini malah gak terganggu sama sekali karenanya. Darah itu ada juga di telapak tangannya yang memeluk sebuah helm rusak. Kacanya retak. Seperti habis terkena benturan keras. Secara umum, cowok itu benar-benar dalam keadaan yang berantakan!
Keadaan itu memancing Leta untuk bertanya. “Hey, kamu gak apa-apa?” Leta menahan ucapannya sambil mencari kata-kata yang tepat selanjutnya. Tak ingin terdengar sok ikut campur, buru-buru ia menambahkan, “Gak bermaksud ikut campur, tapi kamu terlihat agak kacau. Dan juga, itu kepalamu berdarah.”
Leta buru-buru mengambil tissue yang selalu tersedia di tasnya. Hendak membersihkan sedikit darah segar yang masih mengalir di pelipis kepala cowok itu. Belum sempat tissue itu sampai ke pelipisnya, cowok di samping Leta menoleh. Raut wajahnya sedih. Ada air mata di ujung matanya. Leta terhenyak melihatnya. Walaupun gak mengerti apa yang baru di alami cowok itu. Tatapan intens cowok itu terasa berbeda, tapi jelas bukan terganggu karena ‘perhatian’ Leta. Belum reda kekagetan Leta karena tatapan itu, ia akhirnya mendengar suara cowok itu juga lewat ucapannya yang hangat dan terasa familiar sekali.
“Gak usah di hapus Let, biarin aja begitu.” Cowok itu menghapus air matanya, tapi tidak dengan pelipisnya. Ia terlihat sama sekali gak terganggu apalagi merasa sakit dengan itu. Ia meregangkan badannya, lalu duduk tegak. Posisi tubuhnya sudah jauh lebih santai daripada tadi. Masih memeluk helmnya yang rusak, cowok itu meneruskan, “Lo sendirian juga?”
Tangan Leta memang turun dan mengurungkan niatnya membersihkan luka itu, tapi ia malah memberikan tissue itu ke si cowok. “Nih, hapus lukamu, you’ll look much better.” Lalu Leta tersenyum.
Di lihatnya cowok itu memaksakan senyumnya. Leta boleh bilang cowok itu berantakan, tapi jelas ia manis. Warna bibirnya agak pucat, seperti wajahnya. Sinar matanya sendu dan dalam. Mungkin ia baru mengalami sesuatu yang benar-benar membuatnya terpuruk. Apapun itu, Leta hanya merasa ia ingin membantu memulihkannya. Jarang sekali Leta merasa seperti ini. Perduli. Apalagi sama orang yang gak pernah ia kenal sebelumnya. Perduli itu sifat yang akhir-akhir ini jauh sekali dari tangan dan hati seorang Aleta Anggriawan, bahkan Leta pun menyadari itu sendiri. Buatnya buat untuk apa perduli, toh orang lain juga gak perduli pada dirinya. Terlebih lagi setelah Ayahnya meninggal 2 bulan lalu, tanpa pesan. Itu membuat hubungannya dengan sang ibu makin memburuk. Hidupnya juga berantakan. Walau di luarnya tidak terlalu kentara. Tapi dalam hatinya, mungkin lebih berantakan, seperti… seperti cowok di sampingnya ini. Hidupnya jelas tak sama lagi setelah sang ayah pergi di panggil Yang Maha Kuasa.
Tapi melihat entah apa masalah cowok ini, akhirnya membuat Leta berkata, “Gue gak tau masalah lo apaan. Iya gue sendirian. Selalu ngerasa sendirian setelah bokap pergi. Skenario hidup memang gak ada yang bisa nebak. Tau-tau kita terdampar di tempat yang sama, ngerasa sendirian. Ngerasa hidup kita udah berakhir saat ini juga, tapi siapa yang tau kan?”
Cowok itu hanya bisa tersenyum pahit mendengar omongan Leta. Mungkin menyentuh bagian yang paling vital di hidupnya. Mungkin itu berhubungan dengan masalahnya. Tapi Leta senang bisa membuatnya paling tidak mau tersenyum. Leta menggeser posisi duduknya, kali ini menghadap si cowok langsung. “Listen, gue gak tau lo baru aja ngalamin apa. Tapi share mungkin bisa ngebantu. Gue gak terbiasa perduli sama orang, apalagi yang asing sekalipun. Tapi melihat lo, bikin gue pengen stay. Gue juga gak tau seberapa banyak gue bisa ngebantu masalah lo, tapi lebih baik kecil daripada gak sama sekali kan?”
Kali ini senyum cowok itu mengembang lebih baik. Lalu mengangguk pelan. Leta menambahkan, “Dan please, hapus darah itu. Gue bukan penggemar fanatik darah-mengalir-di-kepala. Looks creepy. Looks tragic.”
“Lo cewek baik.”
Kali ini Leta yang tersenyum. Lalu ia berdiri dan mengulurkan tangannya pada si orang asing. “Hm yeah, tapi sayangnya hidup gak berlaku demikian sama gue. My life is a mess. I wish yours were better. Let’s go, find something to heal yours.”
Cowok itu menyambut tangan Leta, dan tertawa. “Rama. Panggil gue Rama. You don’t know that yours are much better than mine now. You don’t know me. But I know yours.”
Leta menyahut. “You’ll get better.”
“You too..”
........... (to be continued) >> klik Everything Happens for a reason [Part 2] untuk baca lanjutannya.
*Cerita ini juga saya ikutkan dalam kompetisi yang bekerja sama dengan Nulisbuku untuk project #icare.
#minta komentarnya yaa... thx.


Auto Post Signature

Auto Post  Signature