Top Social

Everything Happens For A Reason [Part 2]

Friday, May 27, 2011

Baca cerita sebelumnya di Everything Happens For A Reason [Part 1].
1 bulan kemudian
Leta uring-uringan. Deza, pacarnya mulai rese. Alesannya mulai macem-macem. Selalu menghindari dirinya tanpa alesan yang jelas. Mulai jarang masuk kampus. Gak ada teman-temannya yang tau kemana Deza pergi. Kadang ada, kadang gak ada. Buat Leta, Deza makin gak tergapai. Padahal di saat seperti ini, ia berharap Deza ada untuknya. Mendengar semua ceritanya. Tapi yang ia dapat malah sebaliknya.
Malam itu, Leta bertemu lagi dengan Rama, si cowok misterius yang sudah lama gak muncul. Karena lagi ribet-ribetnya soal hidup yang di rasanya gak lebih baik, sampai-sampai Leta gak menyadari kehadiran Rama yang absent beberapa waktu. Sampai ia muncul lagi hari itu. Di sebuah dapur, dan Rama tengah membuatkannya sushi, makanan favorite Leta ketika galau melanda.
“Lama gak ngeliat lo, kemana aja?” Tanya Leta sepintas, sambil melahap salmon segar yang tersaji di piringnya.
Rama tersenyum, tangannya terampil memilin nasi dengan nori1. “Yeah, yang punya masalah kan gak cuma elo.”. Rama menaruh alpukat dan udang, lalu menggulungkan nasinya lagi. “Mengunjungi keluarga gue. Kangen banget sama mereka. Sedih karena mereka belum bisa ikhlas, dan nangis terus. Apalagi anak dan istri gue, juga sodara gue. Pengen banget meluk mereka, sayangnya gue gak bisa.”
“Kenapa gak?” Leta menyomot nori nganggur di talenan kering dekat tangan hebat Rama. Tapi Rama nampak cuek. Di sadarinya, kepala Rama sudah gak bocor darah kayak kemarin. Kali ini bersih, wajahnya agak pucat tapi cerah. Pelipisnya sudah di jahit, ada plester putih di situ.
Because, the thing wasn’t simple same like before.” Jawab Rama dengan penekanan di kata ‘the thing’.
Compare to mine, maybe yours were better. Deza, cowok gue ngilang terus. Ada aja alesan pas gue butuh dia. Padahal gue cuma perlu temen buat curhat. Gue pengen di denger. Sementara gue dan nyokap malah ribut terus. Dia maunya gue pergi sejauh mungkin, sampe perlu yaa nyekolahin gue ke luar negeri segala. Kuliah ke luar emang impian gue, tapi setelah bokap gak ada, kayaknya impian itu ilang aja. Sementara kayaknya nyokap pengennya gue gak gangguin dia. Di pikirnya gue gak tau kali soal dia dan Om Hanung. Sebegitu mudah yaa nyokap ngelupain bokap?!” Leta sebal bukan main, inget lagi kejadian yang bikin dirinya uring-uringan. Bukan satu masalah, tapi 3 sekaligus. Kayaknya gak ada yang bisa lebih parah dari ini.
“Jangan di bandingkan dong. Masalah gue jelas beda. Tapi anyway, gue tau kok masalah lo masih bisa beres. Ada jalan keluarnya. Lo cuma perlu satu hal untuk ngeberesin itu semua.” Rama sudah selesai dengan sushinya. Ia pintar menatanya. Cantik sekali. Rama jelas-jelas berbakat.
Leta menghela napas. Gak pernah kepikiran solusi yang cukup bagus untuk semua masalahnya. Kayaknya semuanya sama aja. “Apaan?” tanyanya agak malas.
“Perduli. Perhatian. Dan tingkatkan tuh kedewasaan elo dalam menyikapi keadaan. Inget, yang punya masalah bukan cuma elo. Semua orang punya masalahnya masing-masing. Misalnya, cowok lo. Siapa tahu dia memang punya masalah sendiri, yang belum bisa di ceritain ke elo karena suatu hal? Kenapa lo gak coba Tanya dan lebih peka? Yang perlu perhatian di saat-saat sulit kan gak cuma elo.”
‘Klise!’ protes Leta dalam hati.
Seolah bisa tahu apa yang di pikirkannya, Rama membacanya juga. “Iya gue tau, klise kan? Tapi memang itu kok jalannya. Dan soal nyokap lo. Kenapa gak pernah terpikir di kepala lo, kalau nyokap lo juga terpukul tentang kepergian bokap? Gak sadarkah elo, dia perlu juga dukungan orang lain, yang mungkin ia dapatkan dari Om Hanung. Apalagi di saat anaknya sendiri terpuruk dan masih gak bisa nerima keadaan. Nyokap lo berusaha sekuat dan setegar mungkin di depan lo, bukannya dia gak sedih. Dia kehilangan setengah jiwanya, dan sekarang mesti berdiri sendiri. Lo gak perlu salahin Om Hanung kegatelan atau apa. Dia memang perduli!”
Kata-kata Rama barusan seolah menamparnya bolak-balik. Setengah hatinya membenarkan semua perkataan Rama. Namun masih, hatinya yang lain mencari pembenaran atas teorinya yang masih ragu tentang semua ini. Setelah melahap sushi terakhir di piringan, Rama berlalu. Mungkin bahkan Rama pun jengkel melihat Leta terlalu egois. Di saat seperti ini, ia berharap ayahnya datang dan memeluknya erat.
..... to be continued. Baca lanjutan di >> Everything Happens for A Reason [Part 3]



Auto Post Signature

Auto Post  Signature