Top Social

Warna yang Berbeda

Thursday, June 23, 2011
Sore yang oranye

Masih.

Aku masih jauh dari rumah. Lebih jauh pula sekarang.
Jadi nomaden 2 bulan ini.
Aku masih di hutan rantau yang sama,
masih pula di payungi langit yang sama.
Tapi di pemandangan jendela yang berbeda.

Sekarang saja sudah pukul 5 waktu langit oranye.
Semua atap gedung yang luasnya tak berbatas ini perlahan-lahan menjadi warna oranye transparan, bening memudar tapi tetap tampil cantik.
Langit tak buru-buru menjadi gelap ketika Bulan ingin mampir.
Langit masih menyempatkan waktunya ketika Sang Pencipta menorehkan warna cantik oranye ke kanvas langit.
Memayungi pejalan kaki yang hendak pulang.

Atau sekedar menyapa ramah "Selamat petang" pada sepasang muda-mudi yang tengah terlentang di rumput hijau, asyik memandang pada goresan indah yang Sang Pencipta torehkan hari itu, lalu mereka bersyukur masih bisa menghabiskan waktu bersama.

Lalu menyempatkan melambaikan angin kecilnya pada anak-anak kecil yang menabuh drum kecil ketika waktu mendekati adzan magrib. Saatnya berbuka sebentar lagi. Puasa seharian dari semua godaan yang ada.

Aku cinta langit oranye milik-Mu Tuhan.
Engkau mengguratkannya sempurna. Bersyukur masih bisa melihatnya, lalu menghirup aroma petang yang engkau tiupkan dan merasai gemerlapnya lampu-lampu malam yang menyala cantik menutup perjumpaanku dengan sang langit oranye.

Aku mengagumi langit oranye milik-Mu Tuhan.
Sungguh ciptaan yang sempurna. Tak bosan aku menatapnya. Tak mungkin kutemukan ciptaan seperti itu di kanvas lain. Hanya ada di kanvas milik-Mu Tuhan.

Aku berharap ketika esok tiba, aku bisa menatap langit yang sama, namun dengan guratan yang berbeda.. Tetap langit oranye ciptaanmu, tetap cantik dan tetap oranye.

Auto Post Signature

Auto Post  Signature