Top Social

Bahasa Asing vs Nasionalisme

Wednesday, June 04, 2014
Kemarin malam, pas saya lagi nyetir perjalanan pulang ke rumah dari kantor (kantor saya gak jauh dari pintu keluar tol tanah kusir) ke rumah (bogor), saya teringat celoteh salah satu teman lama. Dia bertanya : "Kenapa sih lo ngetweet, terus ngobrol mesti pake bahasa inggris terus? Gak cinta sama bahasa sendiri? Gak cinta lo sama negara sendiri?"

Jujur saya sedikit tersentil dengan omongan begitu. Tapi mungkin pemikiran saya yang bertolak belakang dengan dia, bikin saya cuma tersenyum aja. Nasionalisme kok di sama ratakan sama seringnya kita ngobrol atau ngetweet pake bahasa Inggris sih? Shallow banget kalo punya pemikiran seperti itu.

Dulu, salah satu tujuan saya sekolah di luar negeri sebenarnya bukan karena gak cinta indonesia, atau pendidikan di negeri sendiri gak bagus, tapi sepertinya karena ayah saya sengaja bikin anaknya kecemplung ke dunia yg baru. Untuk belajar dan membuka mata. Pernah dengar kata orang tentang arti sebuah perjalanan yang akan membuka mata kita dan mengubah pandangan kita terhadap sesuatu? Nah yang ini saya setuju. 

Orang-orang yang sering berpergian ke luar negeri untuk sekolah, kerja atau liburan, bukan karena di negeri sendiri gak cukup atau nasionalisme mereka rendah, tapi karena mungkin kesempatan di luar lebih baik untuk mereka saat itu. Keluar dari comfort zone itu penting, sama pentingnya seperti mencoba hal-hal baru agar kita lebih terbuka kepada dunia. Yang gak setuju boleh angkat tangan, sekali lagi itu pilihan ya.

Tinggal di negeri orang selama beberapa tahun, kerinduan tentang Indonesia jelas ada. Bagaimanapun, Indonesia kan tempat saya lahir, dibesarkan, gimana gak cinta coba?

Tweetnya mbak @ikanatassa
Lalu saya baca tweet berikut di atas, punya nya mbak Ika Natassa soal gak ada hubungannya antara nasionalisme dengan orang yg sering ngetweet dalam bahasa inggris atau gak. Saya juga sering ngetweet, nulis post dan bahkan sekedar ngobrol atau chat dalam bahasa inggris. Bukan berarti saya gak cinta sama Indonesia lho. Wah cinta banget malah, dimana lagi kita bisa nemu tukang jualan es krim atau siomay mondar-mandir area komplek di sore hari? Atau nemu tukang tambal ban di pinggir jalan? Percaya deh, hal-hal simple begitu belum tentu bisa kamu temuin di luaran sana. Kalaupun someday saya pergi atau bahkan menetap di negara lain, toh pasti bakalan balik ke sini lagi. Lah wong orang tua, sahabat, dan kerabat saya masih di sini.

Dulu, sampai pas SMA saya inget banget nilai bahasa inggris saya bukan termasuk yg bagus, malah saya lebih unggul di pelajaran bahasa Indonesia. Tapi ketika ngerasain belajar di luar dan cuma bahasa inggris dan bahasa tarzan yg bisa di pakai supaya saling mengerti satu sama lain, ya mau gak mau bahasa inggris jadi pilihan nomor satu.

Ketika setelah pulang ke sini, kenapa masih aja sering ngomel-ngomel ato ngomong dalam bahasa inggris (ada lho temen saya yg sempet nanya), aslinya itu karena terbiasa, dan kadang karena gak nemu kata yg pas dalam bahasa indonesia, makanya pakai bahasa inggris. Kadang ada kalimat tertentu yg terdengar lebih nyaman ketika kita lafalkan dalam bahasa lain. Begitu juga sebaliknya, banyak kosakata yang gak mungkin kita translate satu persatu ke dalam bahasa Indonesia.

Lagipula, menguasai banyak bahasa lain bukan berarti rasa nasionalis nya rendah lho. Tiap orang punya takaran masing-masing soal itu. Jadi lebih baik jangan ngejudge sembarangan. Gak baik.

Intinya satu, tetap lah gak ada hubungannya nasionalisme kita sama seberapa sering kita ngomong/ngetweet dalam bahasa Inggris. Lagi pula kemampuan berbahasa asing adalah kebutuhan di jaman sekarang ini. Sekalipun kamu berencana untuk tinggal menetap selamanya dan tak pernah keluar dari tanah air sendiri, suatu saat kamu pasti memerlukannya.

Top 5 bahasa asing yang ingin saya pelajari :
1. French (masih dasar)
2. Korean
3. Spanish
4. Hindi
5. Jepang

See you on the next post!
XO - Fienna Nurhadi

Auto Post Signature

Auto Post  Signature