Top Social

Ini Cerita Kita - Saatnya Teman Tuli Berkarya

Sunday, May 27, 2018
Bulan Ramadan seperti ini, jadi salah satu waktu yang pas banget nih untuk memulai kegiatan positif, salah satunya dengan meluangkan waktu untuk membantu sesama. Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya, salah satu kegiatan utama saya belakangan ini adalah jadi volunteer. Nah, di postingan kali ini, saya mau cerita tentang acara yang keren banget di hari kemarin dan kebetulan saya sebagai salah satu volunteernya. Pertanyaan saya, ada kah dari kalian yang punya teman tuli dan seberapa jauh kalian mengenal budaya mereka?

 
Saya sendiri selalu punya ketertarikan dengan dunia dan budaya teman-teman tuli, sejak pertama kali nonton tv show Amerika berjudul Switched At Birth beberapa tahun lalu, lalu belajar ASL (American Sign Language) dari situ dan akhirnya sempat ikutan kursus bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) lewat Pusbisindo. Makanya pas lihat ada acara ini di Indorelawan.org, jelas saya gak mau ketinggalan. Dan benar saja, acara ini membuat saya nambah teman dan wawasan saya tentang budaya teman-teman tuli. Lewat acara ini, kita di ajak untuk membudayakan ramah tuli.

Salah satu caranya adalah dengan berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Seperti menggerakan tangan di udara untuk menunjukkan cara bertepuk tangan dengan bahasa isyarat.


Acara kemarin yang bertajuk 'Ini Cerita Kita' diadakan di Ruang Audiotorium Perpustakaan Nasional ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang teman-teman tuli dan bagaimana mereka bisa berkarya setara dengan mereka yang ada tanpa disabilitas.

Rangkaian acara "Ini Cerita Kita" adalah kolaborasi inisiatif antara Pamflet, Gerkatin Kepemudaan dan Sedap Films yang turut didukung oleh Voice untuk memperkuat kapasitas aktivis tuli muda dalam mengekspresikan hak mereka secara kreatif.

Acara ini terdiri dari beberapa bagian yang sudah di lakukan sebelumnya seperti workshop vlog tuli, pembuatan website, pembuatan film pendek dan roadshow film yang sudah berjalan sejak tahun lalu, tepatnya bulan Agustus 2017 hingga acara puncak yang dilaksanakan kemarin, Jumat, Mei 2018 di ruang Audiotorium Perpustakaan Nasional di jalan Merdeka Selatan Jakarta ini. 


Di atas ini ketika saya bertemu dan selfie bareng dengan Mufi, pemeran utama dalam film pendek 'Toko Musik' yang juga di putar di acara ini. Aslinya cantik dan baik banget. Sepintas mirip dengan Karina Salim (well, saya belum pernah ketemu Karina Salim, tapi kalau disandingkan, keduanya kayak kembar sih sepertinya). Dia juga bercerita tentang pengalamannya sebagai aktris, bagaimana seni tari dan teater membantunya menjadi lebih baik dalam berakting, walaupun ada beberapa adegan yang harus dia ulang-ulang terus untuk mendapatkan hasil yang maksimal di film ini. Dari sesi tanya jawab, terlihat antusias penonton untuk film pendek ini besar sekali. Banyak yang minta untuk dibuatkan lanjutannya dengan lebih banyak melibatkan pemain tuli di dalamnya. 


Ada pula pemutaran vlog tuli dalam acara ini. Ada beberapa vlog yang sudah dibuat, salah satunya tentang perbedaan budaya tuli dan budaya teman dengar. Kamu bisa cek vlog mereka di Youtube nya Gerkatin Kepemudaan.

Acaranya cuma pemutaran film aja? Tentu tidak. Ada presentasi dari Ricendy Januardo, aktivis muda tuli yang bercerita tentang pengalamannya dalam melamar pekerjaan dan bagaimana ia menghadapi penolakan sebelum akhirnya bisa diterima bekerja. 



Ricendy bercerita kalau banyaknya penolakan dan diskriminasi yang terjadi pada mereka yang tuli untuk bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan. Banyak perusahaan yang akhirnya tidak mempekerjaan teman-teman tuli karena keterbatasan yang mereka miliki, bahkan sebelum tahap interview.

Menurut data dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Sosial di tahun 2012, 8 dari 10 orang dengan disabilitas tidak memiliki pekerjaan. Data tersebut cukup mengkhawatirkan, banyak dari mereka yang lebih cenderung menganggur dan lebih mungkin menjadi miskin dari pada mereka yang normal. Padahal mereka juga berbakat lho, hanya saja mereka kurang diberikan kesempatan.


Ada banyak lho orang-orang sukses walaupun mereka tuli, dan mereka berhasil menunjukkan bahwa menjadi tuli bukan suatu penghalang menuju sukses. Ada yang masih ingat tentang Nyle DiMarco, model tunarungu yang sukses jadi juara pertama ajang bergengsi American Next Top Model? Dia ngebuktiin dirinya asal ada kemauan dan diberikan kesempatan, siapapun bisa bersinar. Kita di Indonesia punya juga Surya Sahetapy, yang jadi aktivis untuk teman-teman tuli, dan terus dengan aksinya agar teman tuli punya hak yang sama dengan teman dengar. 


Selain pemutaran film, vlog dan presentasi dari Ricendy, ada pula music performance dari Semenjana dan Westjamnation. Teman-teman tuli juga ikut menikmati musik lho, melalui getaran. Ada penerjemah di panggung yang ikut membantu mengartikan setiap lirik dengan gerakan tangan menggunakan bahasa isyarat, dibantu dengan penulisan lirik pada layar di panggung.




Sebagai penutup, ada perwakilan dari 3 organisasi yang terlibat yaitu Pamflet, Gerkatin Kepemudaan dan Sedap Films yang naik ke panggung untuk menyampaikan beberapa pesan-pesan penting sebelum akhirnya berfoto bersama dengan para penonton yang hadir. 

Saya rasa juga sudah saatnya untuk Indonesia ramah tuli (dan ramah disabilitas), karena kalau tidak ada yang memulai, rasanya gak akan maju juga. Karena mereka punya hak yang sama untuk berkarya dan karya nya didengar, setara dengan kita teman-teman tanpa disabilitas. Karena mereka juga BISA, walaupun BERBEDA.


Saya jujur senang sekali bisa terlibat di acara sekeren ini, walaupun sebagai volunteer. Saya rasa udah saatnya ada banyak acara positif dimana teman dengar dan teman tuli punya wadah untuk bisa berkolaborasi bersama. Awalnya saya juga sempat canggung saat pertama kali berkomunikasi dengan mereka, takutnya mereka tidak paham apa yang saya bicarakan, tapi kekhawatiran itu hilang lho seiring waktu. Mereka santai saja menanggapi itu, malah cenderung suportif mengajarkan kita bahasa mereka, untuk lebih saling memahami satu sama lain. Dan nilai plusnya, mereka jauh lebih ekspresif dalam menceritakan sesuatu. Mereka itu seru banget!



Huge thanks untuk tim Pamflet Generasi yang udah kasih kesempatan buat saya bisa gabung bantu-bantu di acara ini.

Jadi, bulan Ramadan ini, kegiatan positif apa nih yang udah kamu lakukan?
Selamat menjalankan puasa!

Auto Post Signature

Auto Post  Signature